PUASA ADALAH PERISAI

Di posting oleh Dakwahsunnah pada 09:53 PM, 27-Jul-12 • Di: Hadits , Ramadhan

165858-268884616559813-54.jpg

Bismillah...

PUASA ADALAH PERISAI

Puasa dapat membentengi pelakunya dari perbuatan Buruk, sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa adalah perisai, maka janganlah dia berkata kotor dan bertindak dungu. Kalau pun ada orang yang mencela atau mencaci maki dirinya hendaknya dia katakan kepadanya, "Aku sedang puasa." Dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi. (Allah berfirman) 'Dia rela meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan nafsunya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.' Setiap kebaikan itu pasti dilipatgandakan sepuluh kalinya." [HR. Bukhari, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]

Yang dimaksud dengan kata-kata kotor (rofats) di dalam hadits ini adalah ucapan yang keji. Kata rofats juga terkadang dimaksudkan untuk menyebut jima' beserta pengantar-pengantarnya. Atau bisa juga maknanya lebih luas daripada itu semua [Lihat Fathul Bari]

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ini bukan berarti di selain waktu puasa orang boleh mengucapkan kata-kata kotor. Hanya saja ketika sedang berpuasa maka larangan terhadap hal itu semakin keras dan semakin tegas [Lihat Fathul Bari]

Kata rofats dengan makna jima' bisa dilihat dalam ayat, "Dihalalkan untuk kalian pada malam (bulan) puasa melakukan rafats (jima') kepada isteri-isteri kalian." (Qs. Al-Baqarah: 187)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata rofats di dalam ayat ini maksudnya adalah jima'. Inilah tafsiran Ibnu Abbas, Atha', Mujahid, Sa'id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdullah, Amr bin Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adh-Dhahhaak, Ibrahim An-Nakha'i, As-Suddi, Atha' Al- Khurasani, dan Muqatil bin Hayan [lihat Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim]

Dan yang dimaksud dengan bau mulut orang yang puasa tersebut adalah bau mulut yang timbul akibat berpuasa, bukan karena sebab yang lain [Lihat Fathul Bari]

Sedangkan yang dimaksud dengan 'keinginan nafsunya' di dalam hadits ini adalah hasrat untuk berjima', sebab penyebutannya digandengkan dengan makan dan minum [Lihat Fathul Bari]

***
Disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi. Dan dipublikasikan kembali melalui muslim.or.id

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar